Arsip Kategori: Warung Selat

Artis Datang, dan Artis pun Pergi…

ARTIS datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, Parto bersama dua anak dan istrinya, 30 Juni 2012 lalu.

Parto, komedian tersebut, kala itu makan di warung kami, di sela kegiatan utamanya, jagong manten sesama komedian Opera Van Java, Nunung. Bersama keluarga, Parto tiba di Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Jateng, diantar sopir taksi dari tempat mereka menginap, Hotel Paragon.

Saya sempat berbincang- bincang dengan Parto dan istrinya. Kebetulan, saat itu saya sedang libur bekerja sehingga berada di rumah, di Solo, dan tidak di kota tempat saya sehari-hari bekerja, Kota Yogyakarta.

Adapun Nunung juga pernah mengudap di Warung Selat Mbak Lies, lebih dari setahun lalu, tepatnya pada 10 juni 2011. Sampai sekarang beberapa pekerja di warung makan istri saya mengenang Nunung sebagai figur yang ramah dan semanak serta tidak sombong.

Adapun empat hari sebelum kedatangan Parto, Warung Selat Mbak Lies dikunjungi artis sinetron Vonni Cornelia, yaitu pada 26 Juni 2012. Saya sedang berada di Yogyakarta tatkala Vonni menikmati selat Solo di warung makan istri saya.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, aktor lawas Pong Harjatmo, pada 7 Desember 2010. Pong, yang belakangan lebih dikenal publik sebagai demonstran, ke Warung Selat Mbak Lies ditemani beberapa kawannya, setelah mengikuti sebuah acara di Pura Mangkunegaran.

Pernah datang pula artis lawas lain, Debby Cynthia Dewi, pada 24 Maret 2012. Disusul kemudian artis lawas yang lebih populer sebagai psikolog, yaitu Tika Bisono, 10 Juni 2012. Artis-artis lawas itu melengkapi kehadiran penyanyi keroncong kenamaan asal Solo, Waljinah, yang menikmati menu makanan warung istri saya pada Agustus 2011.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Maka, Elsa Mayori pun datang pada 5 November 2011. Istri saya mengenang Elsa sebagai artis cantik berambut panjang yang ramah. Sikapnya pun tetap ramah tatkala diajak berfoto bersama oleh sebagian pekerja wanita warung makan istri saya.

Pernah datang pula aktor tampan Vicky Nitinegoro. Bersama beberapa kawannya, Vicky mengunjungi Warung Selat Mbak Lies pada 3 Juni 2012. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kedatangan Vicky, karena saya berada di Yogyakarta sewaktu Vicky menikmati selat- Solo. Sama halnya saat Bondan Winarno syuting di warung istri saya, 29 September 2011, saya pun sedang bekerja di Yogyakarta.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di Warung Selat Mbak Lies meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Adalah adalah Novita Angie, artis yang datang terakhir, pada 8 September 2012 lalu. Novita bersama sejumlah kawan wanitanya, termasuk Sita Nursanti, penyanyi yang pernah populer dengan grup trio Rida, Sita dan Dewi (RSD).

Artis bernama lengkap Novita Anggraeni tersebut ke Solo untuk menonton sendratari kolosal Matah Ati, yang digelar di Pamedanan Pura Mangkunegaran. Saat di warung makan istri saya, setelah menikmati makanan, sebagaimana artis-artis lain yang pernah datang, Novita membubuhkan tanda tangan di atas sebuah piring hias, yang kemudian dipajang istri saya di dinding.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya….

Iklan

Bukan demi Bike to Work


LAMA
nian saya tak pergi ke toko sepeda. Dahulu, semasa masih bersekolah di SMP, saya sering ke toko sepeda untuk membeli onderdil sepeda. Maklum, kala itu saya seneng memodifikasi sepeda. Kesenangan tersebut berhenti setelah saya duduk di kelas III SMP, dan mulai mengendarai sepeda motor trail mini, Yamaha GT-80.

Setelah sekian tahun tak mendatangi toko sepeda, akhirnya Rabu (23/5/2012) lalu saya mengantar istri ke sebuah toko sepeda di Jalan Rajiman, Solo, sebelah barat Singosaren Plasa. Bukan membeli sepeda yang akan saya, atau istri, gunakan untuk bekerja alias bike to work melainkan membeli sepeda untuk dipakai pekerja di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies.

Sebelum ini, ada sebuah sepeda yang sering dipakai pekerja di warung makan istri saya untuk berbelanja ke pasar atau keperluan menuju tempat lain berjarak tak jauh dari rumah. Karena sepeda tersebut sudah bobrok, maka istri saya memutuskan membeli yang baru.

Maka setelah sekian tahun tak mendatangi toko sepeda, akhirnya saya mengantar istri ke sebuah toko sepeda demi membeli sebuah sepeda merek Phoenix, yang populer dengan sebutan ‘sepeda keranjang’. Sepeda yang akan dipakai pekerja Warung Selat Mbak Lies untuk berbelanja ke pasar atau keperluan menuju tempat lain berjarak tak jauh dari rumah. Bukan bike to work ala orang-orang kantoran itu….

Debby, dari Lombok ke Solo demi Selat

WAJAH artis peran lawas, Debby Cynthia Dewi, masih tampak manis pada usianya yang 60 tahun. Ia juga masih sibuk ikut syuting untuk sinteron berjudul Asmara dan Cinta, yang pengambilan gambarnya antara lain dilakukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sela kesibukannya tersebut, artis kelahiran Jakarta, 4 Agustus 1952, ini menyempatkan diri travelling dari Jakarta ke Kota Yogyakarta, dan Kota Solo, Jawa Tengah. Ia pun mengunjungi beberapa tempat wisata dan tempat-tempat kuliner, termasuk warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies.

“Kemarin (Jumat, 23/3, Red) saya ke Yogyakarta, hari ini jalan-jalan di Solo,” kata Debby kepada saya,  seusai makan di Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Sabtu (24/3/2012) siang.

Selama bepergian ke beberapa tempat wisata dan tempat-tempat kuliner, Debby ditemani sejumlah kawannya, termasuk keluarga fotografer kenamaan, Darwis Triadi, yang tinggal di kawasan Kerten, Laweyan, Solo. Saat ke Warung Selat Mbak Lies, Debby, yang mengenakan kaos motif lorek-lorek dipadu celana jeans, bersama rombongannya naik minibus pribadi.

“Ini jalan-jalan dengan kawan-kawan. Mumpung belum masuk masa syuting lagi. Barusan kami syuting di Lombok,” ujar Debby, yang melambung lewat film Tiada Jalan Lain pada 1972, bermain dengan aktor terkenal dari Taiwan, Teng Kuang Yung, yang sangat populer di era itu.

Sambil berjalan ke minibus yang akan membawanya meninggalkan Warung Selat Mbak Lies, Debby memuji kelezatan Selat Solo hasil racikan Wulandari Kusmadyaningrum alias Mbak Lies, istri saya.  “Rasanya enak, lezat.  Pertahankan kelezatannya, ya,”  pesan Debby.  (*)

* Bisa Baca juga di Tribunjogja.com

Denyut Kehidupan Terasa Sejak Subuh

DENYUT kehidupan mulai terasa sejak subuh. Beberapa pekerja warung makan istri saya, yang setiap hari menginap di warung sekaligus rumah kami, bangun tatkala subuh. Mereka bekerja sesuai pekerjaan masing-masing, sampai warung buka pukul 10.00 WIB.

Denyut kehidupan mulai terasa sejak subuh. Wawan, salah seorang pekerja warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, membersihkan bagian depan warung tatkala ia bangun subuh. Ia antara lain bertugas membuka folding gate warung makan yang berlokasi di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah, ini.

Petang, Tak Ada Lagi Keriuhan Pembeli

HARI mulai gelap, karena sinar matahari meredup. Sebagian gerbang warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pun telah ditutup.  Tak ada hiruk-pikuk pembeli. Tak ada antrean orang-orang yang menunggu pesanan makanan mereka dihidangkan.

Begitulah suasana Sabtu (24/12/2011) petang lalu. Saya, yang sedang libur bekerja, menikmati suasana sepi tersebut, setelah seharian, sejak pagi, menyaksikan keriuhan para pembeli di warung kami, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, telepon 0271-653332, Solo, Jawa Tengah, ini.

Riuh, dan hiruk pikuk. Maklum, Warung Selat Mbak Lies memang selalu ramai pembeli, terutama pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Apalagi pada saat hari-hari itu bertepatan dengan liburan sekolah, atau libur tanggal merah (libur nasional).

Saat petang, hari mulai gelap, dan sinar matahari meredup, tak tampak sisa-sisa sebuah warung makan nan laris.   Karena sebagian gerbang warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies, telah ditutup, dan semua bagian warung sudah dibersihkan….

Ersa Mayori Tanda Tangani Piring Hias

SAYA searching melalui mesin pencari di internet, dan baru saya tahu bahwa nama lengkap Ersa Mayori adalah Ersamayori Aurora Yatim (32). Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Mei 1979, ini adalah model, presenter, dan bintang sinetron yang memulai kariernya dari pemilihan Gadis  Sampul. Adapun  acara yang terkenal yang dibawakannya adalah !nsert, program infotaintment di Trans TV.

Artis cantik berambut panjang itu muncul di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42 Telepon 0271-65332, Solo, Jawa Tengah, 5 November 2011 lalu. Tak beda dengan saat-saat sebelumnya tatkala ada sosok terkenal datang ke warung, saya sedang berada di luar kota, yaitu di Yogyakarta, untuk bekerja.

Tak apa. Toh saya bisa memperoleh cerita tentang kedatangan Ersa dari mulut istri saya. Juga, bisa mendapatkan foto-fotonya untuk dipasang di blog ini. Istri saya menggambarkan figur Ersa sebagai artis cantik yang ramah nan banyak senyum.

Ibu dua anak hasil pernikahannya dengan Otto Satria Jauhari, putra bankir Dicky Iskandar Dinata, itu  tak keberatan diminta tanda tangan pada piring hias di Warung Selat Mbak Lies. ia juga senang hati diajak berfoto bersama istri saya maupun beberapa pekerja warung istri saya.

Sepanjang catatan saya, Ersa menjadi figur populer ke sekian yang makan di warung istri saya, yang bernama lengkap Wulandari Kusmadyaningrum itu. Figur-figur lain telah pernah saya tuliskan di blog saya, sejak beberapa tahun lalu. Tentu bukan maksud saya dan istri mengistimewakan sosok semisal Ersa tetapi memang fakta bahwa name make a news. Apa boleh bikin….

Ada Bondan di Warung Selat Mbak Lies

BONDAN Winaro muncul di warung makan istri saya. Ditemani seorang artis, Bondan sebagai host Program Wisata Kuliner datang ke Warung Selat Mbak Lies, 29 September 2011 lalu. Tentu saja bersama rombongan crew dari Trans TV, televisi swasta yang rutin menayangkan Wisata Kuliner setiap hari Sabtu  pukul 07.00 WIB.

Saya sedang bekerja di Yogyakarta tatkala mantan jurnalis Majalah Tempo tersebut syuting di warung selat kami, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah. Tak menyaksikan langsung kedatangan Bondan, saya tahu detailnya berdasar cerita istri saya melalui sambungan telepon.


Bondan dan sang artis saat itu memilih duduk di kursi di warung bagian tengah, menghadap selatan.  Sebagaimana saat mengudap masakan di warung-warung makan lain, Bondan juga memuji menu andalan warung istri saya, racikan Selat Solo, sebagai makanan yang mak nyus.

Sebelum ke Warung Selat Mbak Lies, Bondan ber-mak nyus ria di warung makan lain. Selesai mengudap Selat Solo, Bondan dan rombongan menuju ke beberapa lokasi lain, di antaranya Pasar Gede, sebuah pasar tradisonal di Solo.

Adapun sebelum pergi dari warung kami  Bondan menandatangani beberapa piring hias koleksi istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum yang lebih populer dengan nama Lilis atau Mbak Lies.  Sepuluh hari kemudian, Minggu (9/10/2011), warung kami pun tayang dalam Program Wisata Kuliner Trans TV, melengkapi tayangan-tayangan sebelumnya.