Arsip Kategori: Sewaktu di Yogyakarta

Seorang Putri di Kantor Kami…

PUTRI tersebut adalah Isti Ayu Pratiwi (25), yang lebih dikenal dengan nama Ayu Pratiwi. Dialah Putri Indonesia Pariwisata 2009, yang kini menjadi Brand Ambassador Mustika Ratu, perusahaan kosmetika tradisional pendukung utama pemilihan Putri Indonesia.

Ayu Pratiwi bertamu ke kantor saya, Harian Tribun Jogja, Sabtu (25/2/2012) pagi. Ia datang bersama wakil perusahaan kosmetik PT Mustika Ratu. Selama di Yogyakarta, ia mendatangi beberapa tempat, termasuk memperkenalkan produk kosmetik terbaru Mustika Ratu di sebuah mal.

Mungkin karena sudah bukan Puteri ‘resmi’ lagi, Ayu tampak tidak jaim alias jaga image.  Selama mengobrol santai di ruang rapat redaksi, ia ceplas-ceplos, dan sering tertawa lepas. Dara kelahiran Jakarta, 23 Mei 1987, ini antara lain berkisah tentang ayah dan ibunya yang berasal dari dua suku berbeda : Jawa (Yogyakarta) dan Maluku Utara (Malut). Tatkala ikut Pemilihan Putri Indonesia, tahun 2009, ayu mewakili Malut.

Ia juga berkomentar tentang Yogyakarta, kota kelahiran sang ayah. “Kotanya tenang. Tidak banyak kemacetan,” ucap Ayu, kemudian tersenyum.

Ayu berkisah pula mengenai kesibukannya selain menjadi Brand Ambassador Mustika Ratu, yaitu berakting. Adapun catatan saya, setelah bertanya kepada Paman Gugel, Ayu terkenal berkat perannya sebagai Sarah dalam film Kiamat Sudah Dekat, pada tahun 2003.

Kemudian, pada Festival Film Indonesia 2009 ia masuk nominasi sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik. Pada tahun sama, Ayu mendapatkan nominasi sebagai pemeran pembantu wanita terbaik dalam ajang Indonesian Movie Award (IMA). Lalu, pada tahun 2010, di Bali International Film Festival Ayu memenangkan Best Supporting Actrees untuk film Emak Ingin Naik Haji.  (*)

© Foto : Hendra Krisdianto/Tribun Jogja

Iklan

Peringatan! Peringatan!


Powered by Telkomsel BlackBerry®

SEBUAH peringatan nan penting melengkapi satu ruang kantor saya di Yogyakarta. Peringatan tentang bahaya rokok terhadap seseorang dan kawan-kawan orang itu di kantornya.

Meski begitu, tetap saja puluhan kawan-kawan sekerja saya setiap hari merokok, meski bukan di ruangan. Mereka merokok di samping kantor, di belakang, atau di depan kantor.

Ini memang soal pilihan. Saya sendiri memilih tak merokok, sejak sekian tahun silam, karena berbagai alasan. Termasuk alasan rohani, agar orang tak mencemari tubuhnya dengan benda-benda semisal rokok.

Kawan Lama : dari Makassar ke Yogya

Powered by Telkomsel BlackBerry®

DAHLAN namanya. Sekarang menjabat pemimpin redaksi (Pemred) Koran Tribun Timur di Makassar, dan Tribun Medan. Dulu sekantor dengan saya : kami sesama reporter Tabloid Bangkit, di Jakarta.

Kami berkawan sejak tahun 1999 (atau 1998, saya lupa), sampai sekitar lima tahun kemudian, saat Dahlan dimutasi ke Makassar untuk bekerja di Tribun Timur. Setahun setelah itu, giliran saya yang dimutasi ke Surabaya, ke Harian Surya (induk Bangkit).

Kami bertemu lagi di Kota Yogyakarta. Dahlan mengisi pelatihan para calon reporter dan calon redaktur di koran saya sekarang, Tribun Jogja. Dia mendarat di Yogya, Minggu (12/12/2010) sore, dan langsung  meluncur ke rumah saya di Solo, diantar kawan   yang juga atasan saya di Tribun Jogja, Setya Krisna Sumargo.   Mereka sempat menikmati menu utama di warung istri saya, selat-Solo.

Kerumunan di Jembatan Kali Code

SETIAP malam banyak orang berkerumun di jembatan-jembatan di atas Kali Code, di Kota Yogyakarta. Antara lain,  di Jembatan Gondolayu, di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari kantor saya, Koran Tribun Jogja.

Setiap malam banyak orang berkerumun di Jembatan Gondolayu, terutama setelah Yogyakarta diguyur hujan deras, termasuk Kamis (8/12/2010) malam ini. Mereka menonton aliran Kali Code yang deras, yang bercampur lahar dingin dari Gunung Merapi.

Menonton, bak menikmati hiburan. (Setelah menyaksikan air sungai yang mengalir deras, sebagian di antara mereka saling berpotret memakai ponsel). Padahal, di bawah para “penonton” itu banyak warga penghuni bantaran Kali Code bersiap-siap mengungsi bila sungai tersebut meluap ke rumah mereka.

Banyak orang berkerumun di Jembatan Gondolayu.  Tak hanya saat malam hari melainkan juga sore hari. Kerumunan orang yang datang naik sepeda  motor itu memberikan rezeki bagi beberapa warga yang membuka usaha parkir dadakan.

Tiba-tiba Saya Teringat Gayus…

MELIHAT wig yang dijual di sebuah toko di Kota Yogyakarta ini tiba-tiba saya teringat Gayus Tambunan. Pasalnya, terdakwa perkara dugaan mafia pajak tersebut menyamar memakai wig saat melencer ke Pulau Bali setelah menyuap beberapa oknum polisi di tempat penahanannya, Rumah Tahanan (Rutan) Brimob Kelapa Dua, Depok.

Memang wig-wig yang dipajang tersebut dipasang di atas kepala-kepala boneka wanita, tetapi tetap saja saya teringat kepada Gayus, seorang pria pemilik uang puluhan miliar rupiah yang diduga hasil kejahatan.  Spontan, melihat wig, saya menjadi teringat Gayus. Mudah-mudahan ingatan serupa merasuk dalam benak para penegak hukum yang menangani perkara-perkara Gayus….

Jayalah Sepur Madiun Jaya

MESKI berpindah tempat kerja, dari Kota Surabaya ke Yogyakarta, tetap saja saya menjadi ‘manusia sepur’. Tentu saja, karena tempat domisili saya memang tak berubah : Kota Solo, Jawa Tengah, dan saya tetap menjadi pelajo.

Hanya, bedanya, dulu saya melajo Solo-Surabaya naik Sepur Sancaka, setiap pekan, kini saya melajo menumpang sepur komuter jurusan Solo-Yogyakarta bernama Prambanan Ekspres (Prameks), setiap tiga hari. Selain Prameks, langganan saya adalah Kereta Api (KA) Madiun Jaya.

Saya naik Madiun Jaya dari Solo setiap Senin dan Rabu pukul 07.25 WIB, memakai karcis Prameks seharga Rp 9.000. Berangkat dari Stasiun Solo Balapan, turun di Stasiun Yogyakarta Lempuyangan, kemudian naik ojek ke kantor Koran Tribun Yogya, di Jalan Sudirman No 52, sebelah Toko Buku Gramedia. Ongkos ojek hanya  Rp 5.000, karena jarak stasiun ke kantor relatif dekat.

Adapun Prameks saya naiki dari Yogya ke Solo setiap Sabtu pukul 19.05 WIB. Ini adalah kereta dengan jadwal terakhir atau termalam yang menuju Solo. Tiga hari kemudian, Selasa malam, saya kembali pulang ke Solo. Naik bus, bukan Prameks, karena selain hari Sabtu saya dan kawan-kawan sekantor pulang pukul 21.00 WIB, dan pada jam  segitu, Prameks sudah “tamat riwayatnya”.

Mulai ‘Makarya’ di Yogya

BEKERJA di Kota Yogyakarta. Itulah aktivitas utama saya, sejak Kamis (18/11/2010) lalu. Makarya di sebuah (calon) koran bernama Tribun Yogya. Calon koran, karena Tribun Yogya memang belum terbit; kini sedang dipersiapkan secara serius, antara lain dengan pelatihan sekitar 40 calon reporter dan editor.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan di (calon) kantor Tribun Yogya, yang bersebelahan dengan Toko Buku Gramedia, di Jalan Sudirman. Berlangsung full time, setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai 21.00 WIB, kecuali hari Minggu yang merupakan hari libur.

Mayoritas peserta pelatihan berusia muda. Mereka tampak bersemangat, baik selama menjalani pelatihan di kelas maupun mengerjakan tugas-tugas di lapangan. Di samping semangat, penanda lain atas para calon reporter itu adalah belum dapat menulis berita. Maka, bayangkanlah asyiknya suasana tatkala contoh tulisan mereka yang buruk dibacakan di depan kelas….