Arsip Kategori: Saat di Surabaya

Setelah Enam Tahun…

SEKITAR 16 tahun saya bekerja di tiga kota sebagai jurnalis di Harian Surya. Di Kota Solo, Jawa Tengah, selama empat tahun; di Jakarta enam tahun; dan di Surabaya, Jawa Timur,  pun  enam tahun  —sampai hari ini.

Bekerja di Surabaya berarti (sangat) jauh dari rumah, karena keluarga saya memang tinggal di Solo. Terpaut jarak sekitar 260 kilometer, ditempuh sekitar lima jam perjalanan darat (bus atau kereta api). Maka saya pun wira-wiri Surabaya-Solo setiap pekan.

Setelah enam tahun saya bertugas di Surabaya   —sebagai jurnalis dengan jabatan redaktur—  baru Rabu (20/10/2010) kemarin istri saya sempat datang ke Surabaya. Menyambangi kantor saya, di kawasan Rungkut Industri. Juga, berbelanja ke beberapa toko membeli pernik-pernik untuk warung makannya.

Hanya sehari istri saya di Surabaya. Kamis (21/10) pagi, saya antar dia naik Sepur Sancaka pulang ke Solo, berangkat dari Stasiun Surabaya Gubeng. Kendati cuma sehari, kini dia bisa ikut merasakan lelahnya menempuh perjalanan 10 jam Surabaya-Solo pulang pergi….

Iklan

Selalu Ada Tamu

SELALU ada tamu, meskipun tidak setiap hari, di kantor saya, Redaksi Harian Surya, di Kawasan Rungkut Industri, Kota Surabaya, Jawa Timur. Tentu saja kedatangan mereka berkaitan dengan pemberitaan surat kabar, yang oleh banyak orang sering diistilahkan dengan publikasi.

Selalu ada tamu : entah artis, entah pejabat. Entah pengusaha, entah karyawan biasa. Entah politisi, entah kiai. Kadang-kadang juga demonstran, atau siswa-siswa sebuah sekolah, atau para mahasiswa-mahasiswi sebuah kampus.

Terbaru, Selasa (12/10/2010) pagi kemarin, tamu yang datang adalah sepasang karyawan dari Kantor  PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), sebuah perusahaan semen.  Corporate Communication PT Holcim Indonesia Tbk, Deni Nuryandain, dan Community Relations Officer, Indirani Siswati.

Deni dan Indri, antara lain, berbicara tentang rencana PT Holcim Indonesia membangun pabrik semen di  Desa Merkawang, Tambakboyo, Kabupaten Tuban. Pembicaraan yang ndakik-ndakik oleh pihak yang memerlukan publikasi, dibalas dengan dakik-dakik pula oleh pihak yang memerlukan oplah tinggi dan kue iklan besar. (Maka saya pun  teringat teori yang dulu sering disinggung seorang dosen saya :  sikap adalah fungsi kepentingan).

Sepotong Cerita dari Villa Rukmini

joglo-vertikal

SUDAH lama saya ingin datang ke lokasi wisata di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bukan untuk piknik bersama keluarga, atau rekreasi bareng kawan-kawan sekantor, misalnya, melainkan ingin mengunjungi sebuah villa milik seorang saudara seiman dari Kota Surabaya, yaitu Villa Rukmini.

Saya tahu dari pemilik villa tersebut, Jimmy Methuselah, bahwa Villa Rukmini di Desa Cembor, Pacet, ini berbentuk joglo limasan. Bangunan aslinya, dulu, dibeli, “dicabut”, dan dipindahkan dari sebuah desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

(Pak Jimmy menjelaskan, joglo Limasan berasal dari kata “limalasan“, yakni perhitungan sederhana ukuran “molo” tiga meter dan “blandar” lima meter. Tetapi bila molo 10 meter, maka blandar harus memakai ukuran 15 meter, yang berarti bahasa Jawa limalasan).

Villa di atas lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut disewakan untuk umum. dengan harga sekitar Rp 1 juta per malam. Menurut Pak Jimmy orang-orang yang pernah menyewa selama ini datang dari berbagai kalangan —termasuk kalangan mahasiswa dan keluarga yang mengajak anak-anak mereka.

Saya tahu mengenai keberadaan Villa Rukmini sejak berkenalan dengan Pak Jimmy, hampir empat tahun silam. Namun baru hari Minggu (3/1/2010) lalu saya bisa mengunjungi villa tersebut bersama Pak Jimmy dan istri serta dua saudari seiman yang juga berasal dari Surabaya.

joglo-villa2

Rasa dingin langsung menyergap saat saya turun dari mobil Pak Jimmy, yang diparkir di halaman villa, Minggu (3/1) siang. Tak heran, karena Trawas memang berada di lokasi pegunungan. Setelah itu, sekitar 30 menit kemudian hujan mulai turun.

“Karena musim penghujan, sekarang ini memang hampir tiap hari hujan. Kalaupun tidak hujan, embusan angin di sini sangat kencang,” ujar Pak Jimmy menjelaskan.

Saya melihat-lihat seluruh bagian Villa Rukmini. Di luar, di belakang villa, terhampar persawahan luas. Semua terlihat serbahijau dan segar. Tak ketinggalan, di kejauhan samar-samar tampak Gunung Penanggungan di sebelah timur, dan Gunung Welirang di sebelah tenggara.

dalam-villa

Bagaimana dengan dalam villa? Sentuhan lawas tapi bersih dan rapi terasa saat kita berada dalam villa. Lawas, alias kuno, karena sebagian dinding vila —seperti terlihat pada foto di atas dan di bawah— terbuat dari kayu jati, yang merupakan bagian dari sebuah rumah joglo. Bersih dan rapi, lantaran kayu-kayu jati berwana cokelat itu terawat baik, dipadu dengan dinding tembok dan lantai keramik berwarna cokelat muda. Tak heran bahwa Pak Jimmy menyebut villanya sebagai “villa yang bernuansa beda”….

villa-dalam

Tetapi memang benar adanya. Keberadaan kayu jati-kayu jati berukir, yang merupakan bagian-bagian dari bangunan joglo, itu memang memunculkan nuansa berbeda, terutama bagi mereka yang sehari-hari tinggal di rumah full tembok, termasuk saya. Apalagi selama ini bangunan joglo jarang ditemui di Jatim, karena memang menjadi salah satu bangunan khas di Jateng, terutama Kota Solo.

kamar-villa

Empat kamar tidur dalam villa juga terlihat rapi. Menurut Pak Jimmy, villanya berdaya tampung maksimal 30 orang. Bagi para penyewa, Pak Jimmy menyediakan dua single bed pada masing-masing kamar tidur (empat kamar), ditambah 10 buah free extra bed lengkap dengan kasur, bantal dan sprei.

meja-villa400

Saya juga menengok bagian belakang villa, yang merupakan teras utama. Di sana diletakkan sebuah meja kuno besar dengan taplak kain batik. Selain itu, terdapat pula sebuah kursi panjang nan besar. Saya meminta Pak Jimmy dan istri duduk berdua di kursi tersebut untuk saya jepret.

“Kalau pas ke sini saya senang duduk atau rebahan di kursi ini. Bersantai, merasakan kesejukan cuaca dan menikmati keindahan alam sambil membaca Majalah Menara Pengawal,” ucap Pak Jimmy seraya menyebut nama majalah yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (Yehuwa adalah nama pribadi Allah yang disembah dan dilayani para pengikut Yesus Kritus).

kusri-villa

Mahasiswa-Mahasiswi STIBA di Kantor Saya

SEBANYAK 50 orang mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra (STIBA) Satya Widya Surabaya, dari Program Studi Bahasa Inggris, mengunjungi kantor saya, Rabu (27/1/2010) pagi tadi. Mereka diterima atasan saya, Alfred Lande alias Ale, yang menjabat Redaktur Pelaksana (Redpel) Harian Surya. Mereka menjadi tamu ke sekian yang pernah datang ke kantor yang relatif masih baru ini.