Arsip Kategori: Perjalanan

Lama Tak Terbang. Terbang Tak Lama

KARENA kini jarang bepergian jauh, semisal Solo-Jakarta, maka saya pun tak sering naik pesawat. Rutinitas perjalanan saya, dua kali dalam sepekan, hanya Solo-Yogyakarta, yang berjarak sekitar 60 kilometer. Cukup naik kereta api komuter, bus ber-AC, atau sepeda motor trail.

Akhir Juni, tepatnya Kamis (28/6/2012) lalu, setelah tak lama terbang, akhirnya saya naik pesawat ke Jakarta dari Solo. Mendadak, karena harus mengantar istri. Sebenarnya istri akan terbang dengan anak lanang ragil saya, tetapi karena anak lanang tidak jadi berangkat maka saya pun mengantarkan istri.

Waktu tempuh Bandara Adisumarmo Solo-Bandara Cengkareng Jakarta hanya sekitar 60 menit. Lebih lama waktu saya dan istri serta puluhan penumpang lain di ruang tunggu bandara. Penyebabnya, pesawat Sriwijaya Air yang akan kami naiki delay relatif lama, lebih dari satu jam.

“Itu memang maskapai raja delay. Makanya saya pilih terbang pakai yang ini meski harga tiketnya selisih Rp 50.000,” canda seorang calon penumpang maskapai lain, saat bertemu seorang kawannya yang duduk di sebelah saya, di kursi ruang tunggu.

Saya tersenyum mendengar candaan berbau ejekan tersebut. Hmm, raja delay. Julukan yang tidak enak.  Tetapi tak apalah saya telah memilih raja delay.  Setelah menunggu lebih dari 60 menit, akhirnya kami pun terbang. Terbang tak lama, mendarat di Jakarta, kemudian dijemput bapak mertua….

Iklan

Akhirnya Menunggang Trail Lagi….

TAK penting kendaraan bermotor apa yang saya pakai, yang penting tidak gampang mogok. Maka begitulah, saya pun santai saja mengendarai Yamaha YT-115, yang saya beli secara kredit tahun 1999 silam dari kantor tatkala saya menjadi reporter Harian Surya Surabaya di Biro Jakarta.

Motor tersebut, dahulu, saya tunggangi melewati jalanan di Jakarta. Sesudah itu saya pakai di Kota Surabaya, Jawa Timur, setelah saya pada akhir 2004 dipindahkan manajemen kantor saya dari Ibu Kota ke Kota Buaya tersebut.

Kemudian, tatkala saya pindah bekerja ke Yogyakarta, di Harian Tribun Jogja, yang masih saudara Harian Surya, YT-115 tetap saya tunggangi. Saya pakai motor buatan 1998 tersebut untuk bolak-balik dari kos ke kantor, dan bolak-balik dari Yogyakarta ke rumah keluarga saya di Solo setiap akhir pekan.

Tak penting kendaraan bermotor apa yang saya pakai, yang penting tidak gampang mogok. Karena YT-115 tersebut jarang mogok, maka saya pun santai saja setiap hari mengendarainya. Tetapi, ternyata, keluarga saya merasa tak nyaman melihat saya naik motor berusia 14 tahun itu. Apalagi, mereka tahu, setiap pekan saya pakai YT-115 menempuh perjalanan Yogyakarta-Solo pulang pergi, sejauh sekitar 130 kilometer.

Apa boleh bikin. Akhirnya saya putuskan membeli sepeda motor baru. Pilihan saya adalah motor trail Kawasaki KLX 150 cc (sebenarnya pengin sih beli yang 250 cc tetapi harganya terlalu tinggi, sekitar Rp 50 juta).

Trail bagi saya bukan barang baru. Sewaktu saya duduk di kelas III SMP, sekitar tahun 1979, saya sudah mengendarai motor trail mini (Yamaha GT-80). Selain itu, kala menjadi reporter Surya di Solo, sekitar tahun 1994 sampai akhir 1998 (sebelum dimutasi ke Biro Jakarta), saya naik Yamaha DT 100 cc, trail buatan tahun 1976.

(Ketika, pada November 2008, saya menyaksikan sebuah motor trail dikendarai pembeli di warung makan istri saya, maka tangan saya pun gatal untuk memotretnya. Hanya, kala itu tak terbersit di benak, bahwa saya suatu saat akan membeli trail lagi).

Maka begitulah, kini setiap hari saya pakai motor buatan 2012 seharga Rp 22,2 juta (harga di sebuah dealer di kalasan, Sleman, DIY) tersebut untuk bolak-balik dari kos ke kantor. Juga, bolak-balik dari Yogyakarta ke rumah keluarga saya di Solo dua kali dalam sepekan. Keluarga saya pun merasa nyaman melihat saya menunggangi  motor baru ini…. (*)

Saya Selalu Senang Sepur

SAYA selalu senang (naik) sepur. Mungkin karena sejak sekitar 12 tahun silam saya selalu wira-wiri naik sepur.  Saya kenyang mengendarai sepur : mulai  dari sepur kelas argo (eksekutif), sepur kelasi bisnis, kereta api komuter, sampai kereta api kelas ekonomi.

Saya selalu senang (naik) sepur.  Dulu sekali, saat saya berkantor di Jakarta sejak tahun 2000 sampai 2004, saya pulang-pergi naik sepur Jakarta-Solo setiap dua pekan. Kadang-kadang naik sepur kelas argo, dan lebih sering menumpang  kereta api kelas bisnis. Naik sepur ekonomi hanya satu kali.

Saya selalu (senang) naik sepur. Dulu, tatkala saya bekerja di Surabaya, mulai tahun 2004 hingga akhir 2010, setiap pekan saya naik sepur dari Solo ke Surabaya. Biasanya naik kereta api kelas bisnis, dan kadang-kadang kelas ekonomi, yang bertarif  hanya Rp 19.500 untuk rute Solo-Surabaya.

Saya selalu (senang) naik sepur. Kini, setelah saya berkantor di Yogyakarta sejak akhir 2010 lalu, saya rutin naik komuter jurusan Solo-Yogyakarta setiap pekan. Hanya perlu sekitar satu jam dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Yogya Lempuyangan, dengan tarif Rp 9.000.

Saya selalu (senang) naik sepur. Saya telah kenyang naik sepur, tetapi tidak pernah merasa terlalu kenyang….

Kerumunan di Jembatan Kali Code

SETIAP malam banyak orang berkerumun di jembatan-jembatan di atas Kali Code, di Kota Yogyakarta. Antara lain,  di Jembatan Gondolayu, di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari kantor saya, Koran Tribun Jogja.

Setiap malam banyak orang berkerumun di Jembatan Gondolayu, terutama setelah Yogyakarta diguyur hujan deras, termasuk Kamis (8/12/2010) malam ini. Mereka menonton aliran Kali Code yang deras, yang bercampur lahar dingin dari Gunung Merapi.

Menonton, bak menikmati hiburan. (Setelah menyaksikan air sungai yang mengalir deras, sebagian di antara mereka saling berpotret memakai ponsel). Padahal, di bawah para “penonton” itu banyak warga penghuni bantaran Kali Code bersiap-siap mengungsi bila sungai tersebut meluap ke rumah mereka.

Banyak orang berkerumun di Jembatan Gondolayu.  Tak hanya saat malam hari melainkan juga sore hari. Kerumunan orang yang datang naik sepeda  motor itu memberikan rezeki bagi beberapa warga yang membuka usaha parkir dadakan.

Jayalah Sepur Madiun Jaya

MESKI berpindah tempat kerja, dari Kota Surabaya ke Yogyakarta, tetap saja saya menjadi ‘manusia sepur’. Tentu saja, karena tempat domisili saya memang tak berubah : Kota Solo, Jawa Tengah, dan saya tetap menjadi pelajo.

Hanya, bedanya, dulu saya melajo Solo-Surabaya naik Sepur Sancaka, setiap pekan, kini saya melajo menumpang sepur komuter jurusan Solo-Yogyakarta bernama Prambanan Ekspres (Prameks), setiap tiga hari. Selain Prameks, langganan saya adalah Kereta Api (KA) Madiun Jaya.

Saya naik Madiun Jaya dari Solo setiap Senin dan Rabu pukul 07.25 WIB, memakai karcis Prameks seharga Rp 9.000. Berangkat dari Stasiun Solo Balapan, turun di Stasiun Yogyakarta Lempuyangan, kemudian naik ojek ke kantor Koran Tribun Yogya, di Jalan Sudirman No 52, sebelah Toko Buku Gramedia. Ongkos ojek hanya  Rp 5.000, karena jarak stasiun ke kantor relatif dekat.

Adapun Prameks saya naiki dari Yogya ke Solo setiap Sabtu pukul 19.05 WIB. Ini adalah kereta dengan jadwal terakhir atau termalam yang menuju Solo. Tiga hari kemudian, Selasa malam, saya kembali pulang ke Solo. Naik bus, bukan Prameks, karena selain hari Sabtu saya dan kawan-kawan sekantor pulang pukul 21.00 WIB, dan pada jam  segitu, Prameks sudah “tamat riwayatnya”.

Andalan Solo-Surabaya

TADI pagi pukul 08.10 WIB saya kembali naik Sepur Sancaka dari Stasiun Solo Balapan, Jawa Tengah, menuju ke Surabaya, Jawa Timur. Empat jam kemudian, saya tiba di Stasiun Surabaya Gubeng.

Tak terhitung sudah berapa kali saya naik kereta api jurusan Yogyakarta-Surabaya ini. (Jika Anda mau menghitung, silakan :  saya naik Sancaka rata-rata setiap pekan, biasanya Kamis, sejak enam tahun silam).

Begitulah, jika Eka-Patas menjadi andalan saya setiap Rabu malam melaju ke Solo dari Surabaya, maka Sancaka merupakan andalan saya berkendara dari Solo ke Surabaya saban Jumat pagi. Saya biasa naik di kelas bisnis, yang harga tiketnya sering berobah, antara Rp 50.000 (batas bawah) sampai Rp 90.000 (batas atas). Kelas bisnis berarti hanya pakai fan, bukan AC.

Sesekali saya pilih kelas eksekutif, yang ber-AC, seperti saat naik berdua dengan istri, sehari lalu, Kamis (21/10/2010) pagi, dari Surabaya ke Solo. Setelah saya bekerja di Surabaya sejak enam tahun silam, baru kali ini istri saya  —yang sehari-hari mukim di Solo bersama anak-anak—  sempat menengok tempat kerja saya. Baru kemarin itu pula saya naik Sancaka dari Surabaya ke Solo.

Andalan Surabaya-Solo

ANDALAN siapa? Andalan saya, yang sejak enam tahun lalu setiap pekan  —biasanya Rabu malam—   naik Bus Eka-Patas dari Kota Surabaya, Jawa Timur, ke Solo, Jawa Tengah. Saya biasa naik bus ini dari Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih, sekitar pukul 21.30 WIB.

Sesudah menempuh perjalanan lima jam, saya turun Kamis dini hari di halte di kawasan Jebres, Solo, tepatnya di sebelah selatan Kolam Renang Tirtomoyo. Di sini beberapa tukang ojek langganan siap mengantar saya ke rumah, di Kampung Serengan, sekitar tujuh kilometer dari halte, dengan imbalan Rp 12.000.

Biasanya saya masuk  rumah pukul 03.00 WIB, tatkala istri dan anak-anak serta pembantu maupun para tetangga tertidur lelap.  Kembali berada di rumah  —sesudah enam hari di luar kota untuk bekerja— alangkah senangnya. Meski hanya sehari. Ya, hanya sehari. Karena esoknya, Jumat pagi, saya harus berangkat lagi ke Surabaya. Kali ini andalan saya adalah Sepur Sancaka.

Saya selalu lancar-jaya memperoleh Bus Eka di terminal, kecuali saat long weekend. Jika libur panjang, saking banyaknya calon penumpang, saya harus ke garasi bus tersebut, di kawasan Klethek, Sidoarjo.

Adapun satu-satunya kegagalan saya naik Eka adalah menjelang Lebaran lalu. Calon penumpang sangat banyak, bus sedikit. Akhirnya, saya terpaksa naik Bus Mira ber-AC, yang satu grup dengan Eka tetapi bukan patas. Harga karcisnya, kala itu, dua kali lipat dari tarif biasa : Rp 60.000!