Arsip Kategori: Keluarga

Rumah ‘Cap Selat Solo’ Ini Lagi Dibangun

LEBIH dari tiga bulan lalu pembangunan rumah keluarga kami dimulai. Diawali pada 8 Juni lalu, dan kini rumah minimalis dua lantai di atas tanah seluas sekitar 100 meter persegi tersebut masih belum rampung dibangun.

Saat ini fokus pekerjaan ada pada lantai dua.  Sembilan tukang setiap hari, kecuali hari Minggu, bekerja dari pagi sampai sore menggarap rumah yang berlokasi di sebuah kampung di sebelah selatan Mapolsek Serengan, Solo, Jateng, ini.

Mungkin sepekan lagi genteng sudah akan dipasang di atas rangka baja ringan, bukan kayu. Sesudah itu, pekerjaan bakal berlanjut di lantai dua, maupun di lantai satu yang sejak beberapa pekan lalu diabaikan karena para tukang fokus di lantai dua.

Masih banyak jenis pekerjaan yang harus dilakukan. Misalnya, lantai belum dipasangi keramik. Daun jendela dan pintu belum dipasang. Pagar pun sami mawon. Begitu juga empat kamar mandi (dua kamar mandi dalam dua kamar tidur, ditambah dua kamar mandi lain di lantai satu dan lantai dua) pun belum beres.

Dahulu, menjelang rumah dibangun, sang pemborong memproyeksikan waktu pembangunan paling lama enam bulan. Kini telah tiga bulan lebih berlalu, dan saya berharap rumah keluarga kami ini bakal selesai tak sampai enam bulan terhitung sejak proyek dimulai.


Saya selalu senang dan bangga setiap kali, terutama saat libur bekerja, biasanya Rabu, menyaksikan  langsung  progress pembangunan rumah di pojok sebuah gang tersebut, yang ternyata terlihat megah.  Sebuah (calon) rumah yang dana pembangunannya terutama berasal dari hasil warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, yang terkenal itu. 🙂  Karena itulah saya sering menyebut (calon) rumah tersebut  sebagai rumah ‘cap selat-Solo’.

Saya senang, karena bersama keluarga bakal menempati sebuah rumah yang terpisah dari warung makan. Bukan apa-apa. Warung makan yang menyatu dengan rumah tinggal kami, di Serengan Gang II/42, Solo, tersebut sudah overload oleh berbagai benda terkait warung dan bermacam-macam dagangan sehingga tidak lagi nyaman dipakai untuk rumah tinggal.

Saya bangga, karena sebagian hasil pekerjaan istri saya bisa terwujud dalam bentuk sebuah rumah. Istri saya membangun usahanya sejak sekitar 25 tahun silam, dimulai dari sebuah warung makan yang sangat kecil, sampai kemudian berkembang seperti sekarang, menjadi warung makan yang kerap masuk tayangan televisi, dan sering disinggahi artis  maupun pejabat.

Saya bangga dengan buah pekerjaan istri saya itu, dan tidak akan pernah mengklaimnya sebagai hasil pekerjaan saya dari profesi jurnalis. Saya pun tak akan pernah malu mengakui bahwa sumber dana pembangunan rumah minimalis dua lantai (yang sertifikatnya atas nama anak bungsu kami) tersebut berasal dari istri  saya…

Iklan

Akhirnya Bukan Lagi Milik Kami…

BANGUNAN yang terlihat tua ini sudah berganti pemilik.   Setelah bertahun-tahun ditawarkan diam-diam —tanpa melalui iklan dalam bentuk apapun— akhirnya rumah di Jalan Sadewa No 23 di Kampung Slembaran, Serengan, Solo, Jawa Tengah, ini laku terjual.

Rumah peninggalan orangtua kami itu bagus pada zamannya. Tetapi sejak beberapa waktu lalu telah menjadi bangunan tua yang tak sebagus rumah-rumah di sebelah kiri, kanan maupun depannya (tak termasuk sebelah belakang, karena belakang rumah itu adalah sebuah sungai yang dikenal dengan nama Kali Jenes).

Rumah yang memang tua, karena dibangun menjelang 1970 silam. Rumah di atas tanah seluas sekitar 700 meter persegi. Rumah di mana saya menghabiskan sebagian kehidupan saya, tatkala masih murid SD (kini saya berusia 47 tahun). Rumah yang sejak beberapa tahun lalu dipakai salah seorang adik wanita saya dan suaminya, bersama tiga keponakannya (termasuk dua anak saya…).

Kini rumah tersebut bukan lagi milik kami, yaitu saya dan saudara-saudara saya. Setelah bertahun- tahun ditawarkan diam-diam —tanpa melalui iklan dalam bentuk apapun— akhirnya rumah ini laku terjual. Berganti pemilik sejak awal September 2011.

Sesungguhnya hanya soal waktu saja bahwa rumah ini bakal berganti pemilik (Karena, memang kami sudah lama menawarkannya, meski tidak dengan tergesa-gesa). Meski begitu, ketika rumah kami benar-benar berpindah tangan, tetap saja kami merasa kehilangan…..

Saat saya tulis naskah ini, rumah tersebut sudah kosong tetapi masih dipakai tidur seorang penjaga yang kami percayai karena pembayaran belum lunas. Tetapi, dalam hitungan hari, sang pembeli bakal melunasi, dan mungkin setelah tanggal 19 September 2011 nanti pemilik baru tersebut bakal memasang pagar keliling di halaman rumah seluas sekitar 700 meter persegi itu.

Pakdhe dan Budhe Pun Suka Cita…

yang-wik-oke

USIA tua, atau keterbatasan fisik, tak menghalangi para penyembah Yehuwa —nama pribadi Allah— untuk senantiasa bersuka-cita memuji dan memuliakan nama-Nya. Tak terkecuali Saudara Martono dan istrinya, yang juga oom dan tante istri saya (biasa saya panggil Pakdhe Martono dan Budhe Wik). Mereka adalah ayah dan ibu Saudara Agus Samiadjie alias Adjie.

Meski sudah berusia relatif sepuh namun Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Ciputat, Jakarta Selatan, tersebut tetap bersemangat mengikuti Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa “Tetaplah Berjaga-jaga!” di Istora Senayan, Jakarta , 10-12 Juli 2009.

Tak kalah bersemangat adalah Saudara Utomo (kiri). Kendati mengalami keterbatasan fisik, dia tetap bersuka cita sekaligus bersemangat memuji dan memuliakan nama Yehuwa dalam kebaktian yang pada hari Minggu (12/7/2009) mencatat puncak hadirin sebanyak 11.256 orang Saksi dan non-Saksi tersebut….

Senang Ikut Kebaktian Distrik Jakarta

aji-oke

DUA pekan setelah Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa “Tetaplah Berjaga-jaga!” berlangsung di Yogyakarta, diselenggarakanlah kebaktian serupa di Jakarta, 10-12 Juli 2009. Puncak hadirin, sebanyak 11.256 orang Saksi dan non-Saksi, tercatat pada hari terakhir kebaktian, Minggu (12/7/2009).

Ikut menghadiri kebaktian tahunan di Istora Senayan tersebut, keluarga Saudara Agus Samiadjie, Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Ciputat, Jakarta. Dia duduk satu deret bersama sang istri, Vera Mutiara Hutagalung, dan anaknya yang berusia 4,5 tahun, Dimas Hamonangan, serta seorang pelajar Alkitab (paling kiri, berbaju cokelat) .

Adjie —panggilan akrab Saudara Agus Samiadjie— adalah sepupu istri saya. Menurut Adjie dalam e-mail yang dikirimkan kepada saya, Sidang Ciputat memiliki 40 penyiar alias 40 Saksi yang bersemangat dan bersuka-cita memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah (meng-Injil, Red).

Melalui e-mail dia juga menginformasikan bahwa dalam Kebaktian Distrik di Jakarta ada 170 saudara dan saudari yang dibaptis menjadi Saksi-Saksi Yehuwa —termasuk dua orang tuna rungu. “Kami senang memperoleh makanan rohani yang berlimpah selama tiga hari kebaktian,” komentar Adjie.