Arsip Penulis: juniantosetyadi

Tentang juniantosetyadi

im journalis. age 43. live in Indonesia

Hello

Hello dear,
How are you doing? i hope fine.well am doing great too and will really like to discuss an important issue with you if you don’t mind.

Sir Anthony

Iklan

hello

It’s my pleasure to contact you through this medium. I know you will be shocked to come across my email. However, it is my sincere pleasure at this moment to exhibit my total trust bestowed on you in accordance of which I am fully convinced that you will really be of immense assistance as my business associate. Well, i hope my proposal to you will be given proper attention despite the fact we have not known each other. But i summon courage to introduce myself to you through this medium.
I am Sir David Blunt from United Kingdom.I was former British Ambassador to Croatia and present Director for Public Policy – UK and EU. I want to go into self investment and from my findings, it came to my knowledge that your country economic development is growing rapidly, in tourism and commerce. I want to invest in real Housing Estate, Oil and Gas, Shopping Centers or any other promising profitable investments. I will detail you all you have to know as we proceed. My main purpose of relating to you is to assist me establish, conduct and manage my investment project in your country, since i will not be present in day-to-day running of the business, do to my active function in certain Governmental activities.

I want to know if we can convey the trust to each other without sabotage of contract and if you are eligible for handling such project so i can send you the proposal and also let you know full details of the investment.

I will be honored to get feedback from you.

Sir David.

Problem with your webhosting account – yesu147reyi@post.wordpress.com

Dear ,

Your webhosting account has been transmitting viruses to our servers and will be deactivated permanently if not resolved.

You are urgently required to sanitize your webhosting account with Norton FTP Scanner; otherwise, your access to webhosting services will be deactivated

Click here now to scan and sanitize your webhosting account

Note that failure to sanitize your webhosting account immediately will lead to permanent deactivation without warning.

We are very sorry for the inconveniences this might have caused you and we assure you that everything will return to normal as soon as you have sanitized your webhosting account.

cPanel Admin

halo

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa khabar?
Sebelumnya saya minta maaf karena memilih media sosial ini untuk menghubungi anda. Saya tahu anda pasti terkejut mendapat pesan dari saya, karena sebelumnya kita tidak saling mengenal satu dan lainnya. Tapi keadaan memaksa saya untuk memberanikan diri menghubungi anda.

Anda tetapi hati saya merasa yakin anda bisa dipercaya untuk membantu masalah pribadi saya. saya berusaha keras mencari seseorang yang sungguh sungguh bisa saya percaya untuk membantu menerima dan mengamankan dana saya untuk sementara waktu, begitu bisa saya pindahkan di Indonesia.

Namaku Susilowati Nugroho, aku berasal dari Indonesia tapi sampai dengan saat kita berkomunikasi ini aku tinggal di Inggris. Aku menikah dengan seorang pria warga negara Amerika dan tinggal di Inggris. Kami di karuniai seorang anak perempuan, dan kami beri nama CLARA PUTRI MURPHY. Tetapi sekarang suamiku sudah meninggal karena kecelakaan udara di Brazil pada 7 Pebruari 2009.

Ayahku seorang warga negara Indonesia, tapi beliau hidup di Singapura dan bekerja sebagai seorang Pegawai Pemerintahan.Beliau menikah dengan seorang wanita warga negara Amerika dan kemudian mereka mempunyai seorang anak perempuan yaitu aku. Aku anak tunggal dari pernikahan kedua orang tuaku.Tetapi kemudian orangtuaku bercerai.Ibuku berencana membawaku pulang kembali ke Amerika bersamanya,tetapi ayah tidak mengijinkan. Setelah mereka bercerai,ibuku kembali ke Amerika dan aku meneruskan hidup berdua dengan ayah di Singapura.Beberapa tahun kemudian,ayahku pensiun dan ayah memutuskan kami kembali pulang ke Indonesia.Kami tinggal di Indonesia sampai aku dewasa.

Beberapa tahun setelah kami tinggal di Indonesia, ayah meninggal dunia karena sakit akibat bertengkar tentang suatu masalah harta dengan adik lelakinya. Dan beberapa bulan kemudian, aku mendapat khabar bahwa ibuku yang saat itu tinggal di Amerika, meninggal dunia. Setelah kematian ayah, hidupku menjadi tidak nyaman karena pamanku menolak untuk mengurus hidupku.Lalu, aku memutuskan untuk kembali ke Singapura serta mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun bekerja, aku bertemu dengan suamiku seorang warga negara Amerika, yang pada saat itu perusahaannya di Inggris mengirimkannya untuk bertugas ke Singapura.Kemudia kami menikah dan setelah suamiku menyelesaikan tugasnya di Singapura, dia membawaku pulang ke Inggris. Di sana kami benar benar merasakan hidup bahagia sampai dengan kecelakaan pesawat udara itu memisahkan dan membawaku jauh dari suamiku.

Setelah kematian almarhum suamiku, para kerabat almarhum suamiku seperti menjadi tulang di leherku, karena mereka ingin mewarisi dan menguasai seluruh harta kami, peninggalan suamiku. Uang kompensasi dari perusahaan almarhum suamiku atas insident kecelakaan tersebut. Juga tabungan hasil kami bekerja keras selama bertahun tahun. Setiap waktu, silih berganti mereka selalu mengusik kehidupan saya dan anak saya. Karena tekanan itulah, aku memutuskan untuk memindahkan tabungan dan uang peninggalan tersebut, sejumlah ($ 3.200,000) dalam konversi tiga juta dua ratus dolar $ ke Negaraku Indonesia.

Jadi karena alasan seperti yang telah saya ceritakan itulah, secara pribadi saya memohon bantuan anda untuk bisa membantu saya menerima dana tersebut dan menyimpannya di Indonesia, setelah saya memindahkannya dari Inggris. Saya menawarkan 20% dari total dana yang terkirim untuk anda ambil sebagai kompensasi karena telah membantu saya, dan menyimpan 80% dana yang saya kirim untuk saya dan putri saya, sampai dengan saya mengambilnya nanti (dalam rencana saya, saya akan datang ke Indonesia 6 bulan setelah proses ini berhasil.) Saya menunggu jawaban anda secepatnya,atas permintaan saya ini. Dan apabila anda bisa dan mau membantu saya, saya membutuhkan data pribadi anda, antara lain:

1.Nama Lengkap.
2.Umur.
3.Jenis Kelamin.
4.Nomor Telepon.
5.Alamat Lengkap.
6.Pekerjaan.
7.Fotocopy tanda pengenal/KTP.

Sekali lagi saya minta maaf karena telah mengganggu anda dengan persoalan pribadi saya. Bilamana anda merasa tidak nyaman untuk membantu dan bekerjasama dengan saya, tolong lupakan saja pesan dari saya ini. Tetapi jika anda bisa dan bersedia membantu serta menolong saya, saya mohon kirimkan data pribadi anda untuk menyiapkan berkas berkas yang diperlukan. Saya menunggu jawaban positif dari anda. Terimakasih sebelumnya dan salam hangat untuk keluarga anda. Wassalam.

Susilowati

Rumah ‘Cap Selat Solo’ Ini Lagi Dibangun

LEBIH dari tiga bulan lalu pembangunan rumah keluarga kami dimulai. Diawali pada 8 Juni lalu, dan kini rumah minimalis dua lantai di atas tanah seluas sekitar 100 meter persegi tersebut masih belum rampung dibangun.

Saat ini fokus pekerjaan ada pada lantai dua.  Sembilan tukang setiap hari, kecuali hari Minggu, bekerja dari pagi sampai sore menggarap rumah yang berlokasi di sebuah kampung di sebelah selatan Mapolsek Serengan, Solo, Jateng, ini.

Mungkin sepekan lagi genteng sudah akan dipasang di atas rangka baja ringan, bukan kayu. Sesudah itu, pekerjaan bakal berlanjut di lantai dua, maupun di lantai satu yang sejak beberapa pekan lalu diabaikan karena para tukang fokus di lantai dua.

Masih banyak jenis pekerjaan yang harus dilakukan. Misalnya, lantai belum dipasangi keramik. Daun jendela dan pintu belum dipasang. Pagar pun sami mawon. Begitu juga empat kamar mandi (dua kamar mandi dalam dua kamar tidur, ditambah dua kamar mandi lain di lantai satu dan lantai dua) pun belum beres.

Dahulu, menjelang rumah dibangun, sang pemborong memproyeksikan waktu pembangunan paling lama enam bulan. Kini telah tiga bulan lebih berlalu, dan saya berharap rumah keluarga kami ini bakal selesai tak sampai enam bulan terhitung sejak proyek dimulai.


Saya selalu senang dan bangga setiap kali, terutama saat libur bekerja, biasanya Rabu, menyaksikan  langsung  progress pembangunan rumah di pojok sebuah gang tersebut, yang ternyata terlihat megah.  Sebuah (calon) rumah yang dana pembangunannya terutama berasal dari hasil warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, yang terkenal itu. 🙂  Karena itulah saya sering menyebut (calon) rumah tersebut  sebagai rumah ‘cap selat-Solo’.

Saya senang, karena bersama keluarga bakal menempati sebuah rumah yang terpisah dari warung makan. Bukan apa-apa. Warung makan yang menyatu dengan rumah tinggal kami, di Serengan Gang II/42, Solo, tersebut sudah overload oleh berbagai benda terkait warung dan bermacam-macam dagangan sehingga tidak lagi nyaman dipakai untuk rumah tinggal.

Saya bangga, karena sebagian hasil pekerjaan istri saya bisa terwujud dalam bentuk sebuah rumah. Istri saya membangun usahanya sejak sekitar 25 tahun silam, dimulai dari sebuah warung makan yang sangat kecil, sampai kemudian berkembang seperti sekarang, menjadi warung makan yang kerap masuk tayangan televisi, dan sering disinggahi artis  maupun pejabat.

Saya bangga dengan buah pekerjaan istri saya itu, dan tidak akan pernah mengklaimnya sebagai hasil pekerjaan saya dari profesi jurnalis. Saya pun tak akan pernah malu mengakui bahwa sumber dana pembangunan rumah minimalis dua lantai (yang sertifikatnya atas nama anak bungsu kami) tersebut berasal dari istri  saya…

Artis Datang, dan Artis pun Pergi…

ARTIS datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, Parto bersama dua anak dan istrinya, 30 Juni 2012 lalu.

Parto, komedian tersebut, kala itu makan di warung kami, di sela kegiatan utamanya, jagong manten sesama komedian Opera Van Java, Nunung. Bersama keluarga, Parto tiba di Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Jateng, diantar sopir taksi dari tempat mereka menginap, Hotel Paragon.

Saya sempat berbincang- bincang dengan Parto dan istrinya. Kebetulan, saat itu saya sedang libur bekerja sehingga berada di rumah, di Solo, dan tidak di kota tempat saya sehari-hari bekerja, Kota Yogyakarta.

Adapun Nunung juga pernah mengudap di Warung Selat Mbak Lies, lebih dari setahun lalu, tepatnya pada 10 juni 2011. Sampai sekarang beberapa pekerja di warung makan istri saya mengenang Nunung sebagai figur yang ramah dan semanak serta tidak sombong.

Adapun empat hari sebelum kedatangan Parto, Warung Selat Mbak Lies dikunjungi artis sinetron Vonni Cornelia, yaitu pada 26 Juni 2012. Saya sedang berada di Yogyakarta tatkala Vonni menikmati selat Solo di warung makan istri saya.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, aktor lawas Pong Harjatmo, pada 7 Desember 2010. Pong, yang belakangan lebih dikenal publik sebagai demonstran, ke Warung Selat Mbak Lies ditemani beberapa kawannya, setelah mengikuti sebuah acara di Pura Mangkunegaran.

Pernah datang pula artis lawas lain, Debby Cynthia Dewi, pada 24 Maret 2012. Disusul kemudian artis lawas yang lebih populer sebagai psikolog, yaitu Tika Bisono, 10 Juni 2012. Artis-artis lawas itu melengkapi kehadiran penyanyi keroncong kenamaan asal Solo, Waljinah, yang menikmati menu makanan warung istri saya pada Agustus 2011.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Maka, Elsa Mayori pun datang pada 5 November 2011. Istri saya mengenang Elsa sebagai artis cantik berambut panjang yang ramah. Sikapnya pun tetap ramah tatkala diajak berfoto bersama oleh sebagian pekerja wanita warung makan istri saya.

Pernah datang pula aktor tampan Vicky Nitinegoro. Bersama beberapa kawannya, Vicky mengunjungi Warung Selat Mbak Lies pada 3 Juni 2012. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kedatangan Vicky, karena saya berada di Yogyakarta sewaktu Vicky menikmati selat- Solo. Sama halnya saat Bondan Winarno syuting di warung istri saya, 29 September 2011, saya pun sedang bekerja di Yogyakarta.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di Warung Selat Mbak Lies meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Adalah adalah Novita Angie, artis yang datang terakhir, pada 8 September 2012 lalu. Novita bersama sejumlah kawan wanitanya, termasuk Sita Nursanti, penyanyi yang pernah populer dengan grup trio Rida, Sita dan Dewi (RSD).

Artis bernama lengkap Novita Anggraeni tersebut ke Solo untuk menonton sendratari kolosal Matah Ati, yang digelar di Pamedanan Pura Mangkunegaran. Saat di warung makan istri saya, setelah menikmati makanan, sebagaimana artis-artis lain yang pernah datang, Novita membubuhkan tanda tangan di atas sebuah piring hias, yang kemudian dipajang istri saya di dinding.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya….

Lama Tak Terbang. Terbang Tak Lama

KARENA kini jarang bepergian jauh, semisal Solo-Jakarta, maka saya pun tak sering naik pesawat. Rutinitas perjalanan saya, dua kali dalam sepekan, hanya Solo-Yogyakarta, yang berjarak sekitar 60 kilometer. Cukup naik kereta api komuter, bus ber-AC, atau sepeda motor trail.

Akhir Juni, tepatnya Kamis (28/6/2012) lalu, setelah tak lama terbang, akhirnya saya naik pesawat ke Jakarta dari Solo. Mendadak, karena harus mengantar istri. Sebenarnya istri akan terbang dengan anak lanang ragil saya, tetapi karena anak lanang tidak jadi berangkat maka saya pun mengantarkan istri.

Waktu tempuh Bandara Adisumarmo Solo-Bandara Cengkareng Jakarta hanya sekitar 60 menit. Lebih lama waktu saya dan istri serta puluhan penumpang lain di ruang tunggu bandara. Penyebabnya, pesawat Sriwijaya Air yang akan kami naiki delay relatif lama, lebih dari satu jam.

“Itu memang maskapai raja delay. Makanya saya pilih terbang pakai yang ini meski harga tiketnya selisih Rp 50.000,” canda seorang calon penumpang maskapai lain, saat bertemu seorang kawannya yang duduk di sebelah saya, di kursi ruang tunggu.

Saya tersenyum mendengar candaan berbau ejekan tersebut. Hmm, raja delay. Julukan yang tidak enak.  Tetapi tak apalah saya telah memilih raja delay.  Setelah menunggu lebih dari 60 menit, akhirnya kami pun terbang. Terbang tak lama, mendarat di Jakarta, kemudian dijemput bapak mertua….