Penjual Bunga yang Juga Kakak Ipar Bupati

PASANGAN suami-istri penjual bunga di luar Pasar Kembang Solo ini terbilang sukses.

Mereka memiliki dua tempat berjualan.

Sebelumnya sejak lama mereka memiliki hanya satu lapak di sebelah utara pasar, kemudian mulai beberapa waktu lalu menyewa sebuah bangunan yang kemudian dipakai berjualan sembako sekaligus bunga.

Toko yang berlokasi di luar kompleks Pasar Kembang, sebelah utara berjarak sekitar 20 meter, itu juga dipakai tidur, dan ada fasilitas kamar mandi dan WC.

Lebih dari lima tahun saya jadi langganan mereka : setiap akhir pekan, Sabtu dan atau Minggu, saya beli bunga Mawar, Sedap Malam dan lain-lain seharga Rp 30.000 untuk pewangi ruangan resto istri saya.

Karena sudah lama kenal, dan karena saya sering ajak mereka mengobrol sembari menunggu pesanan bunga saya disiapkan, saya jadi tahu banyak informasi tentang mereka.

Antara lain, adik perempuan si ibu penjual bunga ternyata istri seorang bupati di sebuah kabupaten di Jawa Timur.

Hasil penelusuran saya lewat Paman Gugel, sang adik perempuan itu menikah sekitar sembilan tahun silam —jauh sebelum suaminya mulai menjabat bupati pada 26 April 2021.

Adapun awal Maret 2021, nyonya bupati melahirkan bayi pertamanya di sebuah rumah sakit di Solo.

Sejak tahu bahwa sang adik ternyata istri seorang bupati, jika sedang mengobrol dengan sang ibu penjual bunga atau suaminya saya sering menanyakan kabar nyonya bupati itu.

Biasanya mereka menjawab pertanyaan saya sembari menunjukkan wajah semringah, membuat saya ikut senang. (*)

Bengkel Trail Tua ‘Prakarya’

BENGKEL yang disebut LSM Garage di kawasan Mojosongo, Jebres, Solo, ini sering saya sambangi, terutama saat belum pandemi Covid-19.

Disebut LSM Garage karena pemiliknya adalah Lasimin, akrab disapa Paman LSM, seorang montir las yang ahli memodifikasi trail tua, termasuk membuat trail (tampak) tua dari motor berusia muda.

Saya sering berseloroh menyebut sebagian trail tua hasil modifikasi Paman LSM maupun para builder lain adalah trail prakarya.

Tapi jangan salah : trail prakarya tidak selalu murah, tergantung kekuatan kantong sang pemesan untuk memilih jenis spare parts yang diperlukan.

Saya sendiri pernah dibikinkan trail tua oleh Paman LSM dari Honda Tiger tahun pembuatan 2006.

Motornya saya beli seken Rp 9,5 juta, sedangkan total biaya modifikasi —termasuk ongkos jasa sang Paman— sekitar Rp 10 juta.

Beberapa pemesan lain mengeluarkan uang jauh lebih banyak daripada saya…. (*)

Sempe yang (Pernah) Bikin Heran Ganjar Pranowo

ADA orang yang menyebutnya sempe, ada pula yang menyebut rambut nenek, dan yang lain menyebutnya arum manis.

Saya dan orang-orang di lingkungan saya termasuk yang menyebutnya sempe.

Wujudnya, silakan melihat foto di atas.

Tak banyak toko maupun resto di Solo yang menjual penganan tradisional yang rasanya manis ini.

Dari sedikit tempat itu, resto istri saya, Warung Selat Mbak Lies, salah satunya.

Karena termasuk kudapan “langka”, sempe sering membuat surprise konsumen warung makan istri saya, terutama konsumen yang bukan anak-anak dan remaja.

Termasuk Ganjar Pranowo, sang gubernur Jateng itu.

Tatkala, sebelum pandemi Covid-19, Ganjar diajak sejumlah pesohor Solo menikmati makan (saat) siang di resto istri saya, dia heran melihat ada sempe di antara penganan-penganan lain yang disediakan di meja.

“Wah, ada sempe, jarang ada lho ini,” kata Pak Gubernur, kala itu.

Begitu pula saat 29 September 2021 lalu sejumlah pengusaha tersohor dari Jakarta berada di Warung Selat Mbak Lies, mereka senang.

Saat meninggalkan warung, empat orang di antara mereka membawa plastik besar berisi banyak sempe untuk oleh-oleh.

Oya tiga dari para pesohor itu adalah Wishnutama Kusubandio, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang sekarang menjadi Komisaris Tokopedia; Andre Soelistyo, CEO GoTo; dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia.

Kala itu mereka menikmati makan siang bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. (*)

Banyak Tentara Didatangkan ke Kampung Saya

JALAN di depan rumah saya didatangi banyak anggota tentara nasional Indonesia (TNI) sejak beberapa hari lalu.

Bukan, mereka bukan didatangkan komandannya untuk  memadamkan kerusuhan atau sejenisnya.

Bapak-bapak tentara itu peserta kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung, yang pada masa lalu dikenal sebagai ABRI masuk Desa (AMD).

Mereka dibantu antara lain sejumlah relawan dari beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Majelis Tafsir Alquran (MTA). 

Warga setempat juga ikut membantu.

Proyek pekerjaan para tentara tersebut adalah memperbaiki saluran air yang memanjang dari Selatan ke Utara di Jalan Bima, di seberang rumah saya (sebelah Barat).

Saluran air diperbaiki karena, jika turun hujan lebat, aliran air tidak lancar, dan sering memunculkan genangan air tinggi, semacam banjir lokal.

Maka setiap hari, pagi siang sore (kadang malam), jalan di depan rumah saya “diobrak-abrik” oleh para peserta TMMD tersebut.

Pengerjaan proyek rehabilitasi ini juga menggunakan alat-alat berat seperti backhoe, mesin molen dan ekskavator.

Maka hampir tiap hari suasana pun ramai oleh suara mesin, termasuk mesin truk berukuran gede.

Saya memperoleh informasi dari ketua RT bahwa jadwal TMMD ini akan berakhir 14 Oktober 2021 mendatang.

Berarti masih sepekan dari sekarang. (*)

(Calon) Kolam Ikan Nila, Bukan ‘Ikan’ Lodan

SEBUAH kolam ikan selesai dibuat beberapa hari lalu, di halaman rumah saya.

Kolam ikan biasa-biasa saja, sederhana, bukan kolam keren.

Karena hanya kolam biasa, pembuatnya pun cukup tukang bangunan biasa. Maksudnya, saya tak menggunakan jasa tukang khusus pembuat kolam.

Tukang bangunan biasa itu pun saya undang bukan hanya untuk membuat kolam tetapi juga merenovasi sedikit bagian halaman rumah.

Antara lain memasang kerikil-kerikil kecil agar halaman rumah terlihat “lain”, dan melengkapi “keindahan” kolam ikan.

Hanya, meski sudah jadi beberapa hari lalu, kolam itu belum difungsikan sebagaimana mestinya.

Istri saya, yang nanti bakal sering menikmati “keindahan” kolam, masih menunggu agar renovasi kecil-kecilan di halaman rumah kami selesai.

“Nanti kita isi dengan ikan Nila,” katanya, tadi pagi.

Saya berseloroh, mestinya diisi ‘ikan’ Lodan.

Istri saya tertawa.

Sebaliknya, dua pemuda karyawan warung makan istri saya yang pagi tadi ada di dekat kami, keheranan.

Iwak Lodan nopo Lohan (maksudnya Louhan, Red)?” tanya seorang di antara mereka.

Tatkala saya jawab bahwa yang saya maksud bukan ikan Louhan tapi Lodan, dan saya kasih tahu bahwa Lodan itu sama dengan ikan Paus, mereka tertawa.

Ternyata mereka belum pernah dengar istilah ikan Lodan. (*)

Mas Gibran dkk Kerasan di Resto Istri Saya yang Tanpa AC…

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka alias Mas Wali, saat tiba di Warung Selat Mbak Lies.

BUKAN hal istimewa, sebenarnya, jika ada pesohor menikmati menu di resto istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Solo, Jateng.

Sebab, selama ini memang banyak pesohor yang pernah berkunjung –Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah atau artis Indro Warkop atau artis Mikha Tambayong, sekedar menyebut contoh.

Tapi tetap saja menarik, ketika pesohor yang merupakan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka alias Mas Wali, mengunjungi resto istri saya pada Kamis (29/09/2021) siang lalu.

Terlebih saat itu Mas Wali makan (saat) siang bersama sejumlah pesohor dari Jakarta : antara lain Wishnutama Kusubandio, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang sekarang menjadi Komisaris Tokopedia; Andre Soelistyo, CEO GoTo; dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia.

Tapi tidak banyak yang bisa saya kisahkan tentang acara makan siang mereka, karena berada di ruang tertutup yang tempatnya jauh di dalam warung.

Lagi pula, sebelum para pesohor itu datang, panitia acara (dari pihak GoJek) sudah mewanti-wanti agar mereka tidak diganggu selama makan siang berlangsung.

Hal pasti, Mas Gibran dan para pesohor lain itu ternyata kerasan di warung makan istri saya.

Mereka baru pergi setelah hampir tiga jam berada dalam warung, sejak sekitar pukul 13.15 WIB hingga pukul 15.50 WIB.

Padahal warung makan istri saya tanpa fasilitas air conditioner (AC) alias penyejuk udara, hanya memakai kipas angin…. (*)

Rumah ‘Cap Selat Solo’ Ini Lagi Dibangun

LEBIH dari tiga bulan lalu pembangunan rumah keluarga kami dimulai. Diawali pada 8 Juni lalu, dan kini rumah minimalis dua lantai di atas tanah seluas sekitar 100 meter persegi tersebut masih belum rampung dibangun.

Saat ini fokus pekerjaan ada pada lantai dua.  Sembilan tukang setiap hari, kecuali hari Minggu, bekerja dari pagi sampai sore menggarap rumah yang berlokasi di sebuah kampung di sebelah selatan Mapolsek Serengan, Solo, Jateng, ini.

Mungkin sepekan lagi genteng sudah akan dipasang di atas rangka baja ringan, bukan kayu. Sesudah itu, pekerjaan bakal berlanjut di lantai dua, maupun di lantai satu yang sejak beberapa pekan lalu diabaikan karena para tukang fokus di lantai dua.

Masih banyak jenis pekerjaan yang harus dilakukan. Misalnya, lantai belum dipasangi keramik. Daun jendela dan pintu belum dipasang. Pagar pun sami mawon. Begitu juga empat kamar mandi (dua kamar mandi dalam dua kamar tidur, ditambah dua kamar mandi lain di lantai satu dan lantai dua) pun belum beres.

Dahulu, menjelang rumah dibangun, sang pemborong memproyeksikan waktu pembangunan paling lama enam bulan. Kini telah tiga bulan lebih berlalu, dan saya berharap rumah keluarga kami ini bakal selesai tak sampai enam bulan terhitung sejak proyek dimulai.

Saya senang, karena bersama keluarga bakal menempati sebuah rumah yang terpisah dari warung makan. Bukan apa-apa. Warung makan yang menyatu dengan rumah tinggal kami, di Serengan Gang II/42, Solo, tersebut sudah overload oleh berbagai benda terkait warung dan bermacam-macam dagangan sehingga tidak lagi nyaman dipakai untuk rumah tinggal. (*)

Artis Datang, dan Artis pun Pergi…

ARTIS datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, Parto bersama dua anak dan istrinya, 30 Juni 2012 lalu.

Parto, komedian tersebut, kala itu makan di warung kami, di sela kegiatan utamanya, jagong manten sesama komedian Opera Van Java, Nunung. Bersama keluarga, Parto tiba di Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Jateng, diantar sopir taksi dari tempat mereka menginap, Hotel Paragon.

Saya sempat berbincang- bincang dengan Parto dan istrinya. Kebetulan, saat itu saya sedang libur bekerja sehingga berada di rumah, di Solo, dan tidak di kota tempat saya sehari-hari bekerja, Kota Yogyakarta.

Adapun Nunung juga pernah mengudap di Warung Selat Mbak Lies, lebih dari setahun lalu, tepatnya pada 10 juni 2011. Sampai sekarang beberapa pekerja di warung makan istri saya mengenang Nunung sebagai figur yang ramah dan semanak serta tidak sombong.

Adapun empat hari sebelum kedatangan Parto, Warung Selat Mbak Lies dikunjungi artis sinetron Vonni Cornelia, yaitu pada 26 Juni 2012. Saya sedang berada di Yogyakarta tatkala Vonni menikmati selat Solo di warung makan istri saya.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Tahu-tahu datang, misalnya, aktor lawas Pong Harjatmo, pada 7 Desember 2010. Pong, yang belakangan lebih dikenal publik sebagai demonstran, ke Warung Selat Mbak Lies ditemani beberapa kawannya, setelah mengikuti sebuah acara di Pura Mangkunegaran.

Pernah datang pula artis lawas lain, Debby Cynthia Dewi, pada 24 Maret 2012. Disusul kemudian artis lawas yang lebih populer sebagai psikolog, yaitu Tika Bisono, 10 Juni 2012. Artis-artis lawas itu melengkapi kehadiran penyanyi keroncong kenamaan asal Solo, Waljinah, yang menikmati menu makanan warung istri saya pada Agustus 2011.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Maka, Elsa Mayori pun datang pada 5 November 2011. Istri saya mengenang Elsa sebagai artis cantik berambut panjang yang ramah. Sikapnya pun tetap ramah tatkala diajak berfoto bersama oleh sebagian pekerja wanita warung makan istri saya.

Pernah datang pula aktor tampan Vicky Nitinegoro. Bersama beberapa kawannya, Vicky mengunjungi Warung Selat Mbak Lies pada 3 Juni 2012. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kedatangan Vicky, karena saya berada di Yogyakarta sewaktu Vicky menikmati selat- Solo. Sama halnya saat Bondan Winarno syuting di warung istri saya, 29 September 2011, saya pun sedang bekerja di Yogyakarta.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di Warung Selat Mbak Lies meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya. Adalah adalah Novita Angie, artis yang datang terakhir, pada 8 September 2012 lalu. Novita bersama sejumlah kawan wanitanya, termasuk Sita Nursanti, penyanyi yang pernah populer dengan grup trio Rida, Sita dan Dewi (RSD).

Artis bernama lengkap Novita Anggraeni tersebut ke Solo untuk menonton sendratari kolosal Matah Ati, yang digelar di Pamedanan Pura Mangkunegaran. Saat di warung makan istri saya, setelah menikmati makanan, sebagaimana artis-artis lain yang pernah datang, Novita membubuhkan tanda tangan di atas sebuah piring hias, yang kemudian dipajang istri saya di dinding.

Artis datang, artis pergi. Begitulah yang terjadi di warung makan istri saya meski tidak setiap hari, dan tak dapat dipastikan kapan waktunya….

Lama Tak Terbang. Terbang Tak Lama

KARENA kini jarang bepergian jauh, semisal Solo-Jakarta, maka saya pun tak sering naik pesawat. Rutinitas perjalanan saya, dua kali dalam sepekan, hanya Solo-Yogyakarta, yang berjarak sekitar 60 kilometer. Cukup naik kereta api komuter, bus ber-AC, atau sepeda motor trail.

Akhir Juni, tepatnya Kamis (28/6/2012) lalu, setelah tak lama terbang, akhirnya saya naik pesawat ke Jakarta dari Solo. Mendadak, karena harus mengantar istri. Sebenarnya istri akan terbang dengan anak lanang ragil saya, tetapi karena anak lanang tidak jadi berangkat maka saya pun mengantarkan istri.

Waktu tempuh Bandara Adisumarmo Solo-Bandara Cengkareng Jakarta hanya sekitar 60 menit. Lebih lama waktu saya dan istri serta puluhan penumpang lain di ruang tunggu bandara. Penyebabnya, pesawat Sriwijaya Air yang akan kami naiki delay relatif lama, lebih dari satu jam.

“Itu memang maskapai raja delay. Makanya saya pilih terbang pakai yang ini meski harga tiketnya selisih Rp 50.000,” canda seorang calon penumpang maskapai lain, saat bertemu seorang kawannya yang duduk di sebelah saya, di kursi ruang tunggu.

Saya tersenyum mendengar candaan berbau ejekan tersebut. Hmm, raja delay. Julukan yang tidak enak.  Tetapi tak apalah saya telah memilih raja delay.  Setelah menunggu lebih dari 60 menit, akhirnya kami pun terbang. Terbang tak lama, mendarat di Jakarta, kemudian dijemput bapak mertua….

Tampak Depan Pekan Keempat Juni 2012

LOREM ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

LOREM ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

* Memakai Daya Maksimal untuk Sebuah (Calon) Rumah Minimalis.
[Difoto pada Kamis  (21/6/2012). Lihatlah tembok di belakang, untuk membedakan dengan foto pekan lalu].