Jemuran Helm dan Boot
Desember 15, 2009
BUKAN jemuran kain, atau pakaian, yang ada di lokasi proyek pembangunan Balai Kerajaan di Kota Surabaya, Jawa Timur, melainkan jemuran helm dan sepatu boot. Dua jenis peranti yang selalu dipakai para relawan pembangunan tempat ibadat Saksi-Saksi Yehuwa (Yehuwa adalah nama pribadi Allah, Red) tersebut dijemur setelah dibersihkan. Foto jemuran-yang-bukan-pakaian ini saya jepret pada Sabtu (8/12/2009) pagi lalu.
Sepatu-sepatu Palsu. Sepatu-sepatu Mainan
Desember 13, 2009
ADA terdapat di dekat salah satu pintu warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah. Kreasi istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum, demi menghias warung makannya.
Siluet Relawan Proyek Balai Kerajaan
Desember 13, 2009
Ditata Rapi dalam Gudang Proyek
Desember 7, 2009
Dari Luar Kota Demi Proyek Balai Kerajaan
Desember 6, 2009
BALAI Kerajaan yang sedang dibangun di Kota Surabaya, Jawa Timur, nanti memang hanya akan dipakai Saksi-Saksi Yehuwa dari lima sidang yaitu Sidang Wonokromo, Kendangsari, Tropodo, Rungkut, dan Baratajaya. Tetapi, bukan berarti relawan proyek pembangunannya hanya berasal dari lima sidang tersebut.
Selasa (1/12/2009) pekan lalu, misalnya, ada beberapa saudara dan saudari dari sidang-sidang lain ikut menyumbangkan tenaga dalam pembangunan proyek tempat ibadat para pengikut Yesus Kristus ini. Termasuk seorang saudara dari Sidang Blimbing, Kota Malang, yang berjarak sekitar 80 km dari Surabaya.
Saudara Jimmy berangkat dari Malang naik Kereta Api (KA) Panataran, turun di Stasiun Waru, dekat Terminal Bungurasih Surabaya. Sesudah itu dia berjalan kaki menuju lokasi proyek pembangunan Balai Kerajaan, yang jaraknya relatif cukup jauh. Meski demikian, Saudara Jimmy mengaku tidak capai.
“Biasa saja. Saya senang jalan kaki, apalagi tadi masih pagi,” katanya saat kami berbincang-bincang sebelum mulai bekerja sebagai relawan.
Hari Selasa itu Saudara Jimmy memang datang paling pagi. Sekitar pukul 07.30 WIB, saat saya mematikan mesin sepeda motor, dia sudah berada di depan pintu regol lokasi proyek. Saudara Jimmy tidak bisa masuk, karena pintu masih dikunci dari dalam.
Setelah menyapa dia, saya langsung memanggil saudara yang berada di dalam lokasi proyek, yang segera membukakan pintu. Pria dalam proyek tersebut adalah satu dari dua saudara yang mendapat giliran jaga malam sejak pukul 23.00 WIB sampai menjelang pukul 08.00 WIB. Saat itu dia sendirian karena saudara satunya telah meninggalkan lokasi proyek.
Sebagaimana biasa, kegiatan pekerjaan di proyek dimulai pukul 08.00 WIB. Sekitar 30 menit setelah saya dan Saudara Jimmy berada dalam lokasi seluas 800 meter persegi tersebut suasana menjadi ramai oleh kedatangan para relawan lain maupun tim pembangunan tempat ibadat Saksi-Saksi Yehuwa ini (Yehuwa adalah nama pribadi Allah, Red).
Beberapa anggota tim ternyata mengenal Saudara Jimmy. Hal itu terlihat dari sapaan mereka. “Hai, Oom Jimmy. Apa kabar, Oom?” sapa Saudara Eko Cahyono, anggota tim yang juga Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Solo Selatan, Jawa Tengah.
Saudara Eko kemudian menjelaskan kepada saya bahwa Saudara Jimmy sempat menjadi relawan selama dua pekan dalam proyek pembangunan Balai Kerajaan di Kota Denpasar, Bali. Proyek ini selesai sekitar sebulan lalu. Tak heran bahwa Saudara Jimmy kenal dengan Saudara Eko dan saudara-saudara lain, yang baru saja menyelesaikan pekerjaan di Denpasar.
Selama setengah hari, Selasa (1/12), saya bekerja membantu Saudara Eko sedangkan Saudara Jimmy bekerja bersama saudara yang lain. Dia, antara lain, mengerjakan kabel instalasi listrik di bagian atas bangunan.
Selasa (1/12) pekan lalu itu, selain Saudara Jimmy saya juga melihat dua Saksi dari Sidang Sukolilo, salah satunya adalah Saudara Welly. Juga, beberapa saudari namun saya tak sempat berkenalan dengan mereka.
Mereka memang berasal dari luar lima sidang yang akan menggunakan Balai Kerajaan itu jika sudah jadi dibangun nanti, namun dengan suka cita dan suka rela ikut menyumbangkan tenaga dalam pembangunan balai. Tak heran, karena mereka ingin terus menyenangkan Yehuwa….
Sebagian Telah Rata dengan Paving Block
Desember 1, 2009
TAK hanya (calon) bangunan utama Balai Kerajaan di Kota Surabaya, Jawa Timur, yang semakin terlihat kokoh karena dinding-dindingnya kian lengkap. Sebagian halaman lokasi tempat ibadat umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa ini pun telah dipasangi paving block. (Jangan lupa, Yehuwa adalah nama pribadi Allah)
Diberi Tujuh Nama Agar Tidak Tertukar
Desember 1, 2009
ADA tujuh saudara —berusia relatif masih muda— yang masuk tim pembangunan proyek Balai Kerajaan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Setiap hari mereka makan siang bersama di lokasi proyek tempat ibadat para pengikut Yesus Kristus dan penyembah Yehuwa (nama pribadi Allah) tersebut. Agar tak tertukar dengan milik saudara lain, gelas para saudara di meja makan pun ditandai dengan nama masing-masing.
Bertemu Pengawas Wilayah Baru
November 29, 2009
SESUDAH mengikuti perhimpunan —beribadat bersama— sebagian Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/11/2009) pagi tadi, tidak langsung pulang. Mereka mengikuti pertemuan untuk dinas lapangan, yang dipandu oleh Saudara Budi Purwanto. Saudara tersebut adalah pengawas wilayah (PW) atau pengawas keliling Saksi-Saksi Yehuwa yang baru bertugas di Surabaya dan sekitarnya.
Barisan Motor Para Relawan Pembangunan
November 25, 2009
Tak Lagi Tersengat Sinar Matahari (3)
November 25, 2009
SESUDAH atap (calon) bangunan utama terpasang, dan batako semakin banyak dipasang sebagai dinding, maka bekerja sebagai relawan di proyek pembangunan Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa di Kota Surabaya, Jawa Timur, pun menjadi lebih asyik. Mengapa? Karena mayoritas relawan pembangunan kini tak lagi bekerja di bawah terik matahari.
Mengapa begitu? Karena, sebagian besar pekerjaan pembangunan tempat ibadat ini bisa dilakukan di dalam (calon) bangunan utama tersebut —di bawah atap, bukan lagi di tanah terbuka dan bukan di bawah sorot panas matahari.
Pekerjaan-pekerjaan itu, di antaranya, mengikat besi-besi yang akan dipakai dipasang sebagai besi-cor di beberapa tempat. Juga, memotongi kayu, atau memasang tembok batako.
Begitulah yang saya lihat dan rasakan tatkala Selasa (24/11/2009) pagi sampai siang kemarin saya —seperti biasa— kembali menjadi salah satu relawan di proyek tersebut. Bekerja dengan suka-cita bersama para saudara-saudari sesama penyembah Yehuwa (nama pribadi Allah) dan pengikut Yesus Kristus.










