Beranda

Denyut Kehidupan Terasa Sejak Subuh

DENYUT kehidupan mulai terasa sejak subuh. Beberapa pekerja warung makan istri saya, yang setiap hari menginap di warung sekaligus rumah kami, bangun tatkala subuh. Mereka bekerja sesuai pekerjaan masing-masing, sampai warung buka pukul 10.00 WIB.

Denyut kehidupan mulai terasa sejak subuh. Wawan, salah seorang pekerja warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, membersihkan bagian depan warung tatkala ia bangun subuh. Ia antara lain bertugas membuka folding gate warung makan yang berlokasi di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah, ini.

Sepeda Motor yang Kian Butut


ENAM sepeda motor ada dalam keluarga saya, di Solo, Jawa Tengah, dan satu di antaranya kian butut saja. Itulah sepeda motor merek Kymco model skuter matik buatan 2002, yang berarti sudah berusia 10 tahun.

Sejak sekitar lima bulan lalu Kymco tersebut tak lagi dikendarai lantaran mesinnya mogok. Sebelumnya, motor itu sehari-hari dipakai oleh pekerja di warung makan  istri saya, antara lain untuk mengantarkan pesanan makanan dan berbelanja ke pasar atau pusat perkulakan.

(Dalam sebuah tulisan di blog saya yang lain, saya pernah menyebut sang Kymco sebagai  ‘sepeda motor perjuangan’.  Kala saya tulis naskah itu,  sekitar tiga tahun lalu,  Kymco tersebut masih lumayan bagus).

Saya berencana membawa Kymco butut itu ke bengkel, tetapi karena kesibukan pekerjaan di Yogyakarta, saya belum sempat merealisasi rencana tersebut. Hal yang baru bisa saya lakukan adalah memperpanjang masa berlaku Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) alias membayar pajak motor itu, yang jatuh tempo 24 Januari mendatang. Rabu (18/1/2012) pagi, saya lakukan kewajiban saya ke Kantor Samsat Solo.   (*)

Petang, Tak Ada Lagi Keriuhan Pembeli

HARI mulai gelap, karena sinar matahari meredup. Sebagian gerbang warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pun telah ditutup.  Tak ada hiruk-pikuk pembeli. Tak ada antrean orang-orang yang menunggu pesanan makanan mereka dihidangkan.

Begitulah suasana Sabtu (24/12/2011) petang lalu. Saya, yang sedang libur bekerja, menikmati suasana sepi tersebut, setelah seharian, sejak pagi, menyaksikan keriuhan para pembeli di warung kami, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, telepon 0271-653332, Solo, Jawa Tengah, ini.

Riuh, dan hiruk pikuk. Maklum, Warung Selat Mbak Lies memang selalu ramai pembeli, terutama pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Apalagi pada saat hari-hari itu bertepatan dengan liburan sekolah, atau libur tanggal merah (libur nasional).

Saat petang, hari mulai gelap, dan sinar matahari meredup, tak tampak sisa-sisa sebuah warung makan nan laris.   Karena sebagian gerbang warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies, telah ditutup, dan semua bagian warung sudah dibersihkan….

Ersa Mayori Tanda Tangani Piring Hias

SAYA searching melalui mesin pencari di internet, dan baru saya tahu bahwa nama lengkap Ersa Mayori adalah Ersamayori Aurora Yatim (32). Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Mei 1979, ini adalah model, presenter, dan bintang sinetron yang memulai kariernya dari pemilihan Gadis  Sampul. Adapun  acara yang terkenal yang dibawakannya adalah !nsert, program infotaintment di Trans TV.

Artis cantik berambut panjang itu muncul di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42 Telepon 0271-65332, Solo, Jawa Tengah, 5 November 2011 lalu. Tak beda dengan saat-saat sebelumnya tatkala ada sosok terkenal datang ke warung, saya sedang berada di luar kota, yaitu di Yogyakarta, untuk bekerja.

Tak apa. Toh saya bisa memperoleh cerita tentang kedatangan Ersa dari mulut istri saya. Juga, bisa mendapatkan foto-fotonya untuk dipasang di blog ini. Istri saya menggambarkan figur Ersa sebagai artis cantik yang ramah nan banyak senyum.

Ibu dua anak hasil pernikahannya dengan Otto Satria Jauhari, putra bankir Dicky Iskandar Dinata, itu  tak keberatan diminta tanda tangan pada piring hias di Warung Selat Mbak Lies. ia juga senang hati diajak berfoto bersama istri saya maupun beberapa pekerja warung istri saya.

Sepanjang catatan saya, Ersa menjadi figur populer ke sekian yang makan di warung istri saya, yang bernama lengkap Wulandari Kusmadyaningrum itu. Figur-figur lain telah pernah saya tuliskan di blog saya, sejak beberapa tahun lalu. Tentu bukan maksud saya dan istri mengistimewakan sosok semisal Ersa tetapi memang fakta bahwa name make a news. Apa boleh bikin….

Ada Bondan di Warung Selat Mbak Lies

BONDAN Winaro muncul di warung makan istri saya. Ditemani seorang artis, Bondan sebagai host Program Wisata Kuliner datang ke Warung Selat Mbak Lies, 29 September 2011 lalu. Tentu saja bersama rombongan crew dari Trans TV, televisi swasta yang rutin menayangkan Wisata Kuliner setiap hari Sabtu  pukul 07.00 WIB.

Saya sedang bekerja di Yogyakarta tatkala mantan jurnalis Majalah Tempo tersebut syuting di warung selat kami, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah. Tak menyaksikan langsung kedatangan Bondan, saya tahu detailnya berdasar cerita istri saya melalui sambungan telepon.


Bondan dan sang artis saat itu memilih duduk di kursi di warung bagian tengah, menghadap selatan.  Sebagaimana saat mengudap masakan di warung-warung makan lain, Bondan juga memuji menu andalan warung istri saya, racikan Selat Solo, sebagai makanan yang mak nyus.

Sebelum ke Warung Selat Mbak Lies, Bondan ber-mak nyus ria di warung makan lain. Selesai mengudap Selat Solo, Bondan dan rombongan menuju ke beberapa lokasi lain, di antaranya Pasar Gede, sebuah pasar tradisonal di Solo.

Adapun sebelum pergi dari warung kami  Bondan menandatangani beberapa piring hias koleksi istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum yang lebih populer dengan nama Lilis atau Mbak Lies.  Sepuluh hari kemudian, Minggu (9/10/2011), warung kami pun tayang dalam Program Wisata Kuliner Trans TV, melengkapi tayangan-tayangan sebelumnya.

Akhirnya Bukan Lagi Milik Kami…

BANGUNAN yang terlihat tua ini sudah berganti pemilik.   Setelah bertahun-tahun ditawarkan diam-diam —tanpa melalui iklan dalam bentuk apapun— akhirnya rumah di Jalan Sadewa No 23 di Kampung Slembaran, Serengan, Solo, Jawa Tengah, ini laku terjual.

Rumah peninggalan orangtua kami itu bagus pada zamannya. Tetapi sejak beberapa waktu lalu telah menjadi bangunan tua yang tak sebagus rumah-rumah di sebelah kiri, kanan maupun depannya (tak termasuk sebelah belakang, karena belakang rumah itu adalah sebuah sungai yang dikenal dengan nama Kali Jenes).

Rumah yang memang tua, karena dibangun menjelang 1970 silam. Rumah di atas tanah seluas sekitar 700 meter persegi. Rumah di mana saya menghabiskan sebagian kehidupan saya, tatkala masih murid SD (kini saya berusia 47 tahun). Rumah yang sejak beberapa tahun lalu dipakai salah seorang adik wanita saya dan suaminya, bersama tiga keponakannya (termasuk dua anak saya…).

Kini rumah tersebut bukan lagi milik kami, yaitu saya dan saudara-saudara saya. Setelah bertahun- tahun ditawarkan diam-diam —tanpa melalui iklan dalam bentuk apapun— akhirnya rumah ini laku terjual. Berganti pemilik sejak awal September 2011.

Sesungguhnya hanya soal waktu saja bahwa rumah ini bakal berganti pemilik (Karena, memang kami sudah lama menawarkannya, meski tidak dengan tergesa-gesa). Meski begitu, ketika rumah kami benar-benar berpindah tangan, tetap saja kami merasa kehilangan…..

Saat saya tulis naskah ini, rumah tersebut sudah kosong tetapi masih dipakai tidur seorang penjaga yang kami percayai karena pembayaran belum lunas. Tetapi, dalam hitungan hari, sang pembeli bakal melunasi, dan mungkin setelah tanggal 19 September 2011 nanti pemilik baru tersebut bakal memasang pagar keliling di halaman rumah seluas sekitar 700 meter persegi itu.

Ini Kali Masuk Tayangan Metro TV

WARUNG Selat Mbak Lies, dan tentu saja pemiliknya, masuk tayangan televisi lagi. Hari Jumat (2/9/2011) siang lalu, warung istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum alias Lilis (Mbak Lies), tersebut muncul dalam tayangan berita berbahasa China di Metro TV, yaitu Metro Xin Wen.

Saya menyaksikan tayangan tersebut saat berada di tempat kerja, kantor Harian Tribun Jogja, di Yogyakarta. Adapun istri saya, dan para pekerjanya, melihat di rumah sekaligus warung makan kami, di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah.

Beberapa kawan saya maupun kawan istri saya juga menyaksikan tayangan itu. Terbukti, beberapa hari kemudian, ada kawan di Surabaya memberitahu saya via dinding Facebook : ‘selat mbak lis masuk Metro tv minggu wingi. bu jun mesam mesem ae.’

Hahahaha! Saya tertawa membaca pesan dari Kuncarsono Prasetyo, bekas sejawat saya di Harian Surya Surabaya tersebut. Dia tentu tidak tahu bahwa saya juga mesam-mesem tatkala melihat tayangan Metro Xin Wen  Jumat (2/9/2011)  pukul 14.00 WIB tersebut….

Menyaksikan Pembeli Mengudap Selat Solo

ISTRI saya mengelola sebuah warung makan, yang buka setiap hari antara pukul 10.00-17.00 WIB. (Tentu sudah banyak orang tahu bahwa warung itu bernama Warung Selat Mbak Lies. Sebuah warung makan yang didirikan sekitar 26 tahun silam. Warung makan yang sering muncul di tayangan televisi, hehehehe).

Tentu banyak orang tahu pula tentang jam buka warung tersebut : pukul 10.00-17.00 WIB. Tetapi, hampir setiap hari ada saja pembeli datang sebelum pukul 10.00, tatkala warung belum “resmi” buka; atau datang setelah pukul 17.00, saat warung seharusnya telah tutup.

Apa boleh buat. Namanya juga rezeki : istri saya tak pernah menolak pembeli sebelum pukul 10.00 WIB (asalkan masakan memang sudah siap) maupun sesudah pukul 17.00 WIB (asal kanmakanan memang masih ada alias belum habis).

Kalau pembeli datang setelah pukul 17.00, berarti warung sudah relatif sepi. Hanya ada beberapa pembeli, sebagaimana tampak pada foto pada bagian atas naskah ini. Tetapi, menjelang dan saat jam makan siang serta setelahnya, terutama pada Jumat, Sabtu dan Minggu, jangan tanya jumlah pembeli di warung kami !

Tak percaya? Silakan datang mencoba, kalau selama ini Anda memang belum pernah menikmati menu selat Solo di Warung Selat Mbak Lies, warung yang menyatu dengan rumah keluarga kami di Serengan II/42, Kota Solo, Jawa Tengah….

Beli Sepatu Baru Tatkala Tanggal Tua

TAK sering saya membeli sepatu. Hanya jika sang sepatu sudah kelihatan kurang layak dipakai, peyot-peyot, barulah saya membeli sepatu.

Paling sering saya membeli sepatu jenis sepatu sandal,  karena saya pakai sehari-hari di kantor. Adapun sepatu formal saya pakai hanya untuk beribadat, dua kali sepekan, dan atau ke acara-acara di luar kantor, termasuk jagong manten.

Meski dipakai setiap hari, sepatu sandal saya relatif awet. Bisa saya gunakan sekitar dua tahun (mungkin karena harganya tak murah, setidaknya untuk ukuran saya, hahahaha).

Saya termasuk fanatik untuk model dan merek sepatu sandal. Sejak 12 tahun silam, saya memakai merek Pakalolo, dan setelah itu saya tak pernah ganti merek maupun model.

Maka, ketika tanggal 23 Juli 2011 lalu harus membeli sepatu sandal lagi lantaran sepatu lama sudah peyat-peyot, saya pun membeli Pakalolo lagi. Bersama istri, saya datang ke toko sepatu di kawasan Pasargede,  Solo, Jawa Tengah.

Membeli? Ah, lebih tepatnya dibelikan istri. Maklum, 23 Juli merupakan tanggal tua bagi saya, yang gajian setiap tanggal 25. Saya ditraktir istri, yang tak kenal tanggal tua karena warung makannya selalu ramai pembeli….

Saya Selalu Senang Sepur

SAYA selalu senang (naik) sepur. Mungkin karena sejak sekitar 12 tahun silam saya selalu wira-wiri naik sepur.  Saya kenyang mengendarai sepur : mulai  dari sepur kelas argo (eksekutif), sepur kelasi bisnis, kereta api komuter, sampai kereta api kelas ekonomi.

Saya selalu senang (naik) sepur.  Dulu sekali, saat saya berkantor di Jakarta sejak tahun 2000 sampai 2004, saya pulang-pergi naik sepur Jakarta-Solo setiap dua pekan. Kadang-kadang naik sepur kelas argo, dan lebih sering menumpang  kereta api kelas bisnis. Naik sepur ekonomi hanya satu kali.

Saya selalu (senang) naik sepur. Dulu, tatkala saya bekerja di Surabaya, mulai tahun 2004 hingga akhir 2010, setiap pekan saya naik sepur dari Solo ke Surabaya. Biasanya naik kereta api kelas bisnis, dan kadang-kadang kelas ekonomi, yang bertarif  hanya Rp 19.500 untuk rute Solo-Surabaya.

Saya selalu (senang) naik sepur. Kini, setelah saya berkantor di Yogyakarta sejak akhir 2010 lalu, saya rutin naik komuter jurusan Solo-Yogyakarta setiap pekan. Hanya perlu sekitar satu jam dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Yogya Lempuyangan, dengan tarif Rp 9.000.

Saya selalu (senang) naik sepur. Saya telah kenyang naik sepur, tetapi tidak pernah merasa terlalu kenyang….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.